Oleh: luluspriyo | Desember 15, 2008

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Dengan Metode Problem Based Learning Pada Pokok Bahasan Logika Matematika

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Dengan Metode Problem Based Learning Pada Pokok Bahasan Logika Matematika
Di Kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007 / 2008.

Lulus Priyoananto *)
SMA Negeri 3 Kota Blitar

Abstrak :Salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika adalah pemilihan strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa daripada aktifitas mengajar guru. Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Salah satunya adalah Problem-Based Learning. Dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam penyelesaian soal-soal logika dibanding dengan strategi pembelajaran lainnya, strategi Problem-Based Learning memiliki beberapa keunggulan, diantaranya siswa lebih aktif untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
Hasil yang diperoleh pada penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada akhir pelaksanaan tindakan disetiap siklus tampak ada peningkatan rasa senang, antusias dan keaktifan siswa selama pembelajaran. Selain itu hasil belajar dengan metode Problem-Based Learning disetiap siklus meningkat, yaitu nilai rata-rata sebelum penelitian (PraPTK) = 43,5 pada siklus 1 = 69,25 dan pada siklus 2 = 74,00 dengan prosentase kenaikan nilai rata-rata ulangan harian dari pra PTK ke siklus I naik 59,2 % dari siklus I ke siklus II naik 6,85 %. Sehingga dari hasil penelitian tersebut dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : (1) Dengan menggunakan metode Problem-Based Learning prestasi belajar matematika siswa meningkat pada pokok bahasan Logika Matematika, (2) Persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan metode Problem-Based Learning relatif lebih baik dibanding terhadap metode ceramah dan (3) Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode Problem-Based Learning dengan metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika dimana hasil metode Problem-Based Learning lebih baik dari metode Ceramah. Indikator ini tampak dari perbedaan rerata prestasi belajar siswa pada siklus 1 yaitu rerata kelas PTK = 69,25 dan rerata kelas kontrol = 64,00 sedang pada siklus 2 rerata kelas PTK = 74,00 dan rerata kelas kontrol = 68,75.

 
Kata kunci : Prestasi belajar matematika , Problem-Based Learning

PENDAHULUAN
Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dengan situasi berorientasi pada masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000:2 dalam Nurhadi dkk,2004), “ Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Eksperience-Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran Autentik), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada dunia nyata)”. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara bebas. Prinsip pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukankan penyelidikan secara inkuiri.
Terkait dengan kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran dengan pemberian tugas secara berkelompok menjadi salah satu pendekatan yang sebaiknya di kuasai oleh guru baik secara teoritis maupun praktis. Berawal dari pemikiran tersebut Peneliti sebagai guru memilih judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Dengan Metode Problem-Based Learning Pada Pokok Bahasan Logika Matematika Di Kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Ajaran 2007 – 2008”

 

*) Drs.Lulus Priyoananto,M.Pd adalah Kepala SMA Negeri 3 Blitar. Artikel ini disarikan dari hasil KTI On Line Guru Tahun 2007 yang telah tuntas proses pembimbingan dan pelaporannya

 
Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah dengan metode Problem-Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa relatif terhadap metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008 ?
2. Bagaimanakah persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan metode Problem-Based Learning relatif terhadap metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008 ?
3. Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode Problem-Based Learning dengan metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008 ?

 
Tujuan Penelitian


Berawal dari rumusan masalah yang telah diajukan, maka tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode Problem-Based Learning relatif terhadap metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008.
2. Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan metode Problem-Based Learning relatif terhadap metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008.
3. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode Problem-Based Learning dengan metode ceramah pada pokok bahasan Logika Matematika kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Pelajaran 2007/2008.

 
KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2002:2 dalam Nurhadi dkk, 2004), “Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-based Teaching (pembelajaran proyek), Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instructian (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari penyajian kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
1. Ciri-ciri pengajaran berbasis masalah
Berbagai pengembangan pembelajaran berbasis masalah menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah
b. Berfokus pada ketrampilan antar disiplin
c. Penyelidikan autentik
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
2. Tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran
Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri (Nurhadi, Burhan & Agus, 2004).
3. Tahapan pembelajaran berbasis masalah
Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah yang diakhiri dengan penyajian dan analisa hasil kerja siswa.
a. Tahap pertama adalah orientasi siswa terhadap masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b. Tahap kedua adalah mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
c. Tahap ketiga adalah membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan penyelesaian masalahnya.
d. Tahap keempat adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
e. Tahap kelima adalah menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-peoses yang mereka gunakan.

Logika Matematika
1. Pernyataan
Pernyataan adalah suatu kalimat yang deklaratif yang bernilai benar saja atau salah saja, tetapi tidak sekaligus benar dan salah. Yang dimaksud benar atau salah adalah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Setiap pernyataan adalah kalimat tetapi tidak semua kalimat adalah pernyataan.
Contoh : a. 4 kurang dari 5 (benar)
b. 6 adalah bilangan prima (salah)
Suatu pernyataan biasanya dilambangkan dengan memakai huruf kecil, seperti a,b,c,…….o,p,q, dan seterusnya.
Contoh : Pernyataan “4 kurang dari 5”
Ditulis p : 4 kurang dari 5
Benar atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan melalui dasar empiris dan tak empiris.
Dasar empiris yaitu menentukan benar atau salah dari suatu pernyataan berdasarkan fakta yang ada atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh : “ Ibu kota Indonesia adalah Jakarta”, merupakan pernyataan benar.
Dasar tak empiris yaitu menentukan benar atau salah dari suatu pernyataan dengan memakai bukti atau perhitungan-perhitungan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh : “Akar persamaan 3X – 2 = 4 adalah 2”, merupakan pernyataan benar.
2. Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang mengandung variabel, dan jika variabel tersebut di ganti konstanta dengan semesta yang sesuai maka kalimat itu akan menjadi kalimat yang bernilai benar saja atau salah saja.
Variabel adalah simbol yang menunjukkan suatu anggota yang belum spesifik dalam semesta pembicaraan. Dan konstanta adalah simbol yang menunjukkan anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan.
Contoh : a. 2 + x = 5, untuk nilai x variabel bilangan cacah.
b. 4x+3>9, untuk nilai x variabel bilangan asli.
3. Ingkaran dan Negasi (~)
Ingkaran atau negasi adalah kebalikan dari suatu pernyataan. Jika pernyataan yang semula bernilai benar jika dinegasi maka akan menjadi bernilai salah, atau sebaliknya pernyataan yang semula bernilai salah bila dinegasi maka akan bernilai benar.Contoh : a bila dinegasi ~a (berarti bukan a).

4. Konjungsi ()
Konjungsi adalah dua pernyataan bernilai benar jika kedua komponennya bernilai benar. Konjungsi adalah kata lain dari perangkai “dan”.
5. Disjungsi ()
Disjungsi adalah dua pernyataan bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar atau bernilai salah bila kedua komponennya bernilai salah. Disjungsi adalah kata lain dari perangkai atau.
6. Implikasi ()
Implikasi adalah dua pernyataan majemuk yang disusun dari dua buah pernyataan p dan q dengan bentuk jika p maka q (pq) pernyataan tersebut bernilai salah jika p bernilai benar dan q bernilai salah dan yang lainnya bernilai benar.
7. Biimplikasi ()
Biimplikasi adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p dan q dengan menggunakan kata hubung “jika dan hanya jika”. Biimplikasi dua pernyataan akan bernilai benar jika komponen-komponennya memiliki kebenaran yang sama
8. Pernyataan Majemuk
Pernyataan majemuk adalah pernyataan yang dibentuk dari beberapa pernyataan tunggal (komponen) yang dirangkai dengan menggunakan kata hubung logika.
9. Tautologi
Tautologi adalah suatu pernyataan majemuk yang selalu selalu benar untuk semua kemungkinan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan komponennya.
10. Ekuivalen
Dua buah pernyataan dikatakan ekuivalen jika kedua pernyataan majemuk itu mempunyai nilai kebenaran yang sama.
11. Kuantor Universal
Kuantor universal adalah pernyataan yang menggunakan kata semua atau setiap pernyataan yang berkuantor universal “semua A adalah B”
12. Kuantor Eksistensi
Kuantor Ekstensial adalah pernyataan yang menggunakan kata “ada atau beberapa”.

METODOLOGI PENELITIAN

Seting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 3 Blitar pada kelas X-1 sebagai kelas eksperimen dengan metode Problem-Based Learning sedang kelas X-2 sebagai kelas kontrol menggunakan metode ceramah pada tahun pelajaran 2007/2008 dengan pokok bahasan Logika Matematika. Sebagai obyek dalam penelitian ini adalah kelas X-1 yang berjumlah 40 siswa

Siklus Penelitian
Setelah persiapan dianggap cukup baru penelitian dimulai, Peneliti merencanakan penelitian menjadi dua siklus. Sedangkan waktunya mulai tanggal 23 Oktober s/d 6 November 2007. Langkah – langkah yang di tempuh dalam penelitian ini adalah :
1. Siklus 1
a. Perencanaan ( Planning )
Dalam tahap Perencanaan Peneliti bersama Kolaborator mempersiapkan :
 Silabus
 Soal – soal ulangan harian
 Instrumen penelitian
 Materi dan rancangan pembelajaran yaitu Logika Matematika
b. Pelaksanaan ( Acting )
Tahap pelaksanaan dilaksanakan didalam kelas dengan melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan. Peneliti membimbing siswa dalam menyelesaikan soal Logika Matematika dengan pendekatan Problem-Based Learning membentuk suatu diskusi kelompok kecil. Peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, Sementara Kolaborator mengamati proses pembelajaran sebagai bahan diskusi selanjutnya.
c. Pengamatan ( Observing )
Kolaborator melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa, baik tentang sikap maupun tingkah laku selama kegiatan pembelajaran maupun saat mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
d. Refleksi ( Reflecting )
Dalam tahap ini bersama kolaborator melakukan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus I berlangsung dan diadakan ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar baik secara individu maupun klasikal dan membandingkan hasilnya dengan kelas X-2 (kelas kontrol) yang Peneliti lakukan pembelajarannya melalui metode ceramah menggunakan Teknik statistik Uji-T.

2. Siklus II
Pada siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan hasil observasi, dan hasil diskusi dengan Kolaborator serta hasil belajar siswa dengan mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individu maupun klasikal, maka Peneliti bersama Kolaborator merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Adapun langkah – langkah pada siklus II adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan
 Menyiapkan silabus
 Menyiapkan soal – soal evaluasi II
 Instrumen penelitian
 Materi dan rancangan pembelajaran yaitu Logika Matematika
b. Pelaksanan Tindakan
Siswa melaksanakan kegiatan belajar sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah ditentukan. Pada siklus II pelaksanaan pembelajaran perlu dimodifikasi dengan presentasi hasil kerja siswa dan kelompoknya dengan memanfaatkan Media Laptop dan LCD , ini diharapkan akan lebih memberi motivasi dan semangat siswa dalam belajar.

c. Pengamatan ( Observasi )
Ketika siswa melakukan kegiatan belajar pada siklus II, Kolaborator mengamati perubahan sikap dengan memberikan instrumen (angket) yang harus diisi oleh siswa dan juga diamati pembelajaran yang dilaksanakan.
d. Refleksi
Dalam tahap ini bersama kolaborator melakukan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus II berlangsung, dan diadakan ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar baik secara individual maupun klasikal dan membandingkan hasilnya dengan kelas X-2 (kelas kontrol) dimana Peneliti melaksanakan pembelajaran melalui metode ceramah menggunakan Teknik statistik Uji-T
Perbaikan dan Pengayaan

Teknik Analisa Data
Penelitian ini menggunakan analisa non statistik dan statistik inferensial Uji-T, yaitu dengan analisa diskriptif dan Uji perbedaan rerata dua sampel. Analisa diskriptif adalah model analisa dengan cara membandingkan rata-rata prosentasenya, kemudian kenaikan rata-rata pada setiap siklus sedangkan Uji-T digunakan untuk menguji perbedaan rerata dua sampel yaitu kelas X-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol. Disini yang dianalisa tentang perbedaan hasil ulangan pada tiap siklus yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
T =
dimana: jK1 dan jK2 adalah jumlah kuadrat nilai dari masing-masing kelompok dan besarnya.
Nilai jK dihitung dengan rumus :
Kriterium: Hipotesa diterima bila Thit.  Ttabel
Hipotesa ditolak bila Thit. < Ttabel
( Dimana : db = N1+N2-2 )
( Sungkowo, Bambang Tahan, 1985: 11)
Untuk melakukan perhitungan Uji-T ini digunakan komputer program SPSS versi 11.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil pelaksanaan dari siklus-siklus tersebut adalah sebagai berikut :
Siklus 1
1. Perencanaan
a. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai yang direncanakan dengan Kolaborator dengan bentuk klasikal.
b. Siswa duduk berkelompok sesuai dengan tempat duduk yang berdekatan dalam satu garis bangku dengan anggota 4 – 5 orang.
c. Guru memberikan tugas secara berkelompok dan individu.
d. Guru mengamati proses berlangsungnya belajar kelompok.
e. Kolaborator membuat catatan pribadi (catatan lapangan).
f. Guru memberikan tes kepada siswa.
2. Pelaksanaan
Siklus 1 ini merupakan tahap awal dari penelitian yaitu dengan mengambil data ulangan harian siswa yang terakhir sebelum diadakan penelitian, hal ini digunakan sebagai pembanding. Data ulangan harian yang terakhir kelas X-1 sebagai kelas PTK dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang selanjutnya kita olah menggunakan komputer program SPSS versi 11 hasilnya adalah sebagai berikut :
T-Test
Group Statistics
kelas_subyek N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
pra_ptk kelas_eksperimen_x1 40 43.50 16.101 2.546
kelas_kontrol_x2 40 44.00 14.815 2.342

Independent Samples Test
Levene’s Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T df Sig.
(2-tailed) Mean
Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference
Lower
pra_ptk Equal variances assumed .369 .545 -.145 78 .885 -.50 3.459 -7.387
Equal variances not assumed -.145 77.466 .885 -.50 3.459 -7.388
Output SPSS
Pembahasan
Skor Th = -0,145 dengan signifikansi 0,545 (54,5%) dimana Tt untuk db=78 besarnya adalah 0,166 yang sehingga Th 5% yang memiliki arti tidak ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen X-1 dan kelas kontrol X-2 saat pra PTK.
Pelaksanaan pembelajaran siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2007, dan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
Setelah tanda pelajaran dimulai Peneliti masuk ke kelas X-1 yang dipilih untuk subyek penelitian. Peneliti mengucapkan salam kemudian dibahas tentang pernyataan dan kalimat terbuka. Peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang pernyataan dan kalimat terbuka dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang pernyataan dan kalimat terbuka. Selain diharapkan dapat membangkitkan kreativitas siswa dalam mengungkapkan pendapat dan apa yang siswa ketahui tentang pernyataan dan kalimat terbuka. Kemudian siswa disuruh menyebutkan contoh-contoh pernyataan dan kalimat terbuka dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang apa yang belum difahami. Kemudian Peneliti menerangkan apa yang belum dimengerti oleh siswa sehingga siswa menjadi faham. Apabila siswa telah paham, maka Peneliti memberikan soal-soal untuk dikerjakan. Terlebih dahulu siswa disuruh membentuk kelompok secara heterogen yang beranggotakan 4 – 5 orang dan soal tersebut dikerjakan secara berkelompok. Peneliti mengamati dan berkeliling untuk memberikan bimbingan bagi siswa yang masih mengalami kesulitan.

3. Pengamatan
Berdasarkan dari catatan lapangan, pada saat berlangsungnya belajar kelompok ada diantara salah satu kelompok yang dua anggotanya bercengkerama sendiri tentang hal diluar materi diskusi. Peneliti menegur dan menyuruh untuk aktif berinteraksi dengan kelompoknya dalam mendiskusikan masalah yang telah diberikan oleh Peneliti. Sementara itu ada seorang siswa yang makan makanan ringan didalam kelas kemudian ditegur oleh Peneliti. Pada setiap kelompok yang antusias membahas tugas yang diberikan rata-rata 2 atau 3 orang sedang anggota lain cukup aktif. Pengamatan diluar proses belajar kelompok yaitu Peneliti memeriksa buku catatan masing-masing siswa setelah penyajian materi.
Hasil analisa data menggunakan komputer program SPSS versi 11 pada siklus 1 diperoleh hasil sebagai berikut :
T-Test
Group Statistics
metode_pembelajaran N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Subyek mtd_pbl 40 69.25 11.183 1.768
mtd_ceramah 40 64.00 6.325 1.000

Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T Df Sig.
(2-tailed) Mean
Difference Std. Error
Difference 95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Subyek Equal variances assumed 7.883 .006 2.584 78 .012 5.25 2.031 1.206
Equal variances not assumed 2.584 61.632 .012 5.25 2.031 1.189
Output SPSS

Pembahasan

Skor Th= 2,584 dengan signifikansi 0,006(0,6%) dimana Tt untuk db=78 besarnya adalah 0,166 yang sehingga Th ≥ Tt yang artinya kelas eksperimen X-1 berbeda reratanya dengan kelas kontrol X-2 setelah siklus 1. Hasil tersebut juga dapat dibaca dari signifikansi 0,6% < 5% yang memiliki arti ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen X-1 dan kelas kontrol X-2 saat setelah siklus 1.

Hasil Pembahasan
1.Kondisi pra PTK kelas X-1 yang akan menjadi kelas eksperimen PTK memiliki rerata yang tidak berbeda secara signifikan dengan kelas X-2 yang akan menjadi kelas kontrol.

2.Kondisi setelah dilakukan PTK siklus 1 dimana kelas X-1 yang dijadikan kelas eksperimen PTK dan diajar dengan metode Problem-Based Learning memiliki rerata relatif lebih baik dibanding kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang diajar dengan metode ceramah. Adapun untuk kelas eksperimen nilai rata-rata secara klasikal adalah 69,25 sedang kelas kontrol 64,00

Siklus 2
1. Perencanaan
Pada siklus 2 Peneliti lebih meningkatkan kegiatan pembelajaran dari apa yang telah dilakukan pada siklus 1 yaitu ingin meningkatkan kreatifitas siswa kelas X–1 SMA Negeri 3 Blitar dalam pembelajaran kelompok. Adapun perencanaannya adalah sebagi berikut :
a. Peneliti menyajikan materi pelajaran yang telah dirancang bersama Kolaborator
b. Siswa diminta belajar kelompok untuk membahas penyelesaian soal-soal Logika Matematika
c. Peneliti memberikan tugas secara berkelompok dan individu
d. Siswa diberi kesempatan secara kelompok untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas
e. Peneliti memberikan bimbingan kepada setiap kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal logika matematika.
f. Kolaborator membuat catatan pribadi
g. Peneliti memberikan tes dan angket kepada siswa.

2. Pelaksanaan
Siklus 2 dilaksanakan mulai tanggal 30 Oktober 2007 yang membahas tentang disjungsi dan konjungsi. Adapun pelaksanaanya sama seperti siklus 1 tetapi dimodifikasi sedikit lebih menekankan pada kreativitas siswa dalam belajar. Setelah menyampaikan materi berkenaan dengan disjungsi dan konjungsi kemudian Peneliti memberikan soal di papan tulis.
Peneliti membagi semua siswa dalam kelompok heterogen yang tediri atas 4 – 5 orang tiap kelompok :
a. Tiap orang dalam masing-masing kelompok membuat soal-soal yang ada hubungannya dengan pokok bahasan seperti yang dicontohkan di papan tulis.
b. Membicarakan soal yang telah dibuat masing-masing orang dalam kelompok.
c. Mendiskusikan soal yang dipilih sebagai soal kelompoknya
d. Masing-masing anggota kelompok mengerjakan soal berdasarkan pertanyaan hasil kesepakatan.
e. Masing-masing Kelompok mempresentasikan hasil kerjanya menggunakan Laptop dan LCD yang tersedia di ruang Multimedia.

3. Pengamatan
Berdasarkan catatan lapangan, pada saat berlangsungnya belajar kelompok pada awalnya setiap siswa kelihatan aktif dalam kelompoknya masing-masing. Hal ini disebabkan karena Peneliti berkeliling melihat-lihat cara kerja masing-masing kelompok, secara bergantian Peneliti membimbing bagai mana cara yang benar dalam menyelesaikan soal-soal logika yang diberikan.
Hasil analisa data menggunakan computer program SPSS versi 11 diperoleh hasil sebagai berikut :

T-Test
Group Statistics
metode_pembelajaran N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Subyek mtd_pbl 40 74.00 15.157 2.397
mtd_ceramah 40 68.75 8.224 1.300

Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T df Sig.
(2-tailed) Mean
Difference Std. Error
Difference 95% Confidence Interval of the Difference
Lower
subyek Equal variances assumed 20.813 .000 1.925 78 .058 5.25 2.727 -.178
Equal variances not assumed 1.925 60.130 .059 5.25 2.727 -.204
Output SPSS

Pembahasan

Skor Th= 1,925 dengan signifikansi 0,000(0,0%) dimana Tt untuk db=78 besarnya adalah 0,166 yang sehingga Th ≥ Tt yang artinya kelas eksperimen X-1 berbeda reratanya dengan kelas kontrol X-2 setelah siklus 2. Hasil tersebut juga dapat dibaca dari signifikansi 0,0% Tt sehingga prestasi belajar kedua kelompok siswa berbeda secara signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1982. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta: Bina Aksara
Dimyati, Mudjiono. 1998. Belajar Pembelajaran. Jakarta : Asdi Mahasatya.
Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Hudoyo, Herman. 1979. Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional.
IKIP Malang. 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: IKIP Malang.
Milyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004 ( Panduan Pembelajaran KBK ). Bandung : Posdakarya.
Nurhadi, Yasin BY, Senduk AG. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapan dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
PPGM. 1999. Pembelajaran Matematika Yang Aktif dan Efektif. Yogyakarta : pusat pengembangan penataran guru
Riki Suliana. 2005. Dasar – dasar dan Proses Pembelajaran. Blitar Program Studi Matematika STKIP PGRI Blitar
Suryabrata S, 1984. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Rajawali Pers.
Sudjana. 1992. Metoda Statistik. Bandung: Tarsito.
Sungkowo, Bambang Tahan, 1985, Statistik Sebagai Alat Analisis Data Penelitian, FPMIPA IKIP Malang
Suryabrata S, 2003. Metodologi Penelitian. Yogyakarta : Rajawali Pers.
Santoso, Singgih. 2003. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS Versi 11. Jakara: Elex Media Komputindo.
_______________, 2003. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi Mata pelajaran Matematika SMA dan MA. Jakarta: Depdiknas (15)

About these ads

Responses

  1. Silahkan temui saya, pasti saya bimbing utk pembuatannya. Tq


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: